{ scrollbar-face-color: #ffffff; scrollbar-shadow-color: #ffffff; scrollbar-highlight-color: #ffffff; scrollbar-3dlight-color: #ffffff; scrollbar-darkshadow-color: #ffffff; scrollbar-track-color: #ffffff; scrollbar-arrow-color: #a1a1a1; } .blog { font-family: Tahoma, New York; font-size: 12px; line-height: 1.3em; color: #666666; background-color: #ffffff ; text-align:justify ; vertical-align: top; padding: 6px; height: 500px; width: 700px;

} .top { position:absolute; top:0px; left:0px; } .subtitle { font-family: Lucida Handwriting, Tahoma, New York; font-size: 12px; line-height: 1.8em; color: #212121; } .datetimeheader { font-family: Tahoma, New York; font-size: 18px; text-decoration: none; text-align: right; background-color:#bfbfbf ; color: #212121; } .datetimefooter { font-family: Tahoma, New York; font-size: 11px; color: #a1a1a1; } .comment { font-family: Tahoma, New York; font-size: 11px; color: #a1a1a1; } a:link { color: #a1a1a1; text-decoration:none ; } a:visited { color: #212121; text-decoration: none; } a:active { color: #a1a1a1; text-decoration: underline; } a:hover { color: #666666; text-decoration: none; }
. depan . arsip . utama .


Weimar: City of Culture

    Kalaulah ada kota kecil tempat bertemunya budaya Eropa dan orang-orang penting di masanya, mungkin Weimar adalah salah satunya. Kota kecil bagian Thueringen yang terletak di jantung timur Jerman ini adalah pusat kebangkitan pemikir-pemikir abad pertengahan. Awalnya Goethe--salah satu pujangga dan pemikir paling cemerlang dalam sejarah Jerman-- meminta tempat di mana dia dapat merenung dan berkarya.
Pihak kerajaan, yang merasa berhutang pada Goethe mengabulkan permintaannya dan menganugerahkan rumah serta tanah pada Goethe untuk tinggal dan berkarya. Di tempat ini semuanya bermula.

    Kedatangan Goethe mengundang banyak keingintahuan para pemikir dan budayawan lainnya. Di saat yang hampir bersamaan pujangga dan pelukis Schiller turut bermukim dan mendirikan rumah tepat di depan rumah Goethe. Kalau dirunut kebelakang budayawan dan philosopher Jerman, mungkin hampir semuanya pernah singgah di Weimar.

Herder, Liszt,Nietsche,Bauhaus,Bach dan Martin Luther pada masanya pernah tinggal atau singgah di kota ini. Di jalan-jalan sempit setapak dekat taman kota konon pada waktunya Goethe,Schiller dan Herder biasa menulis dan berdebat. Berjalan-jalan di kota ini seperti menelusuri ratusan tahun ke belakang di mana semua rumah bercerita tentang sebuah nama.

'Here where Nietsche, used to stay!'
'Right here we have the former house of Bach...'
'And this was the place where Schiller's wife used to light a candle as a sign to Goethe that her husband isn't at home...' (kabarnya Goethe punya affair dgn istri Schiller).

    Kotanya sendiri sangat kecil, dihuni sekitar 90.000 orang yang kebanyakan berprofesi sebagai 'penghuni kafe'. Jadi jangan heran kalau selama berkeliling di pusat kota dan bertemu dengan orang yang sama 3 kali sehari di 3 kafe yang berbeda. Pusat kotanya terbagi dua : daerah Marketplatz yang kalau pagi hari berfungsi sebagai pasar kagetan dan Goetheplatz yang dikelilingi museum.

Berbicara soal museum, seperti tidak ada habisnya di sini. Hampir setiap rumah yang dulunya dihuni oleh tokoh terkenal, sekarang dijadikan museum untuk mengenang dan mengabadikan memorabilia. Sebagian besar dari museum ini sekarang menjadi world cultural heritage. Kabarnya sewaktu berkuasa Hitler pernah juga 'memaksa' tinggal di daerah Marketplatz.Mungkin dia juga berharap disejajarkan dengan tokoh-tokoh budayawan terkenal eropa.


Di samping pusat kota yang lumayan ramai dengan turis, daerah sekeliling Weimar adalah tipikal padang rumput dengan area yang luas tak terjamah. Di ujung utara kota terletak Buchenwald salah satu lokasi kamp konsentrasi di jaman Nazi. Bangunannya sendiri jauh dari kesan angker, tetapi kalau melihat cerobong asap crematorium-nya (yang terletak tepat di puncak bukit dan terlihat jauh dari Weimar), kadang terbayang derita 50.000 orang yahudi yang tewas terbunuh di sini.

Di bagian selatan kota mengalir sungai Ilm yang membelah taman kota, di sekitarnya terdapat taman kota Park the Ilm berbatasan dengan Garden House tempat Goethe biasa menghabiskan waktu berpikir dan merenung. Di masa pendudukan Soviet sayangnya taman kota ini dijadikan makam tentara Soviet yang gugur saat perang dunia kedua.
Masa-masa perang dingin, adalah masa kegelapan kota ini. Di masa itu kota ini termasuk bagian dari Republik Demokratik Jerman yang oppresif. Gedung-gedung pemerintah sisa periode ini tampak kusam lusuh tak terurus.
Reunifikasi Jerman dipercaya membawa kembali kota yang di masa awal republik sempat dijadikan ibukota ini, ke posisinya semula sebagai Center of excellence of Germany. Tapi Weimar menawarkan banyak hal lebih dari sekedar excellence yang mungkin tak bisa ditemukan in any city map. Seperti Goethe sendiri pernah berkata : 'All the knowledge I possess everyone else can acquire, but my heart is all my own.'


Dion Ringo at 8:11 PM| -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Strasbourg, Ibukota Eropa


Hari itu menjelang sore ketika kami mengakhiri perjalanan 3 jam dari Karlsruhe dengan kereta Trans-Euro. Strasbourg, kota terbesar yang berada di daerah perbatasan Jerman-Perancis sepintas tidak menampilkan kesan sebagai pusat kebudayaan Perancis di selatan daerah Alsace. Malah kesan pertama setibanya di Gare du Centrale maaf agak kumuh. Bergegas kami mencari pusat informasi kota, yg ternyata juga sudah tutup, dengan bahasa Perancis yg terbatas, saya coba berkomunikasi dgn penjaga stasiun, menanyakan hotel atau motel murah di kota ini. Setelah melihat sekilas penampilan kami (backpackers) dia menyarankan auberg de jeuness atau youth Hostel. Saya sempat kaget juga ternya dia ngerti 'prancis' saya yang campur aduk...he..he..

Dari peta kota, yg tersedia dgn harga sekitar 6 euro, kami menelusuri kota dgn bus, mencari yg namanya auberg de jeuness, tapi setelah berkeliling sekitar satu jam ngga ketemu; ternyata tempat itu sudah pindah, ya, ke luar kota kira2 satu jam jaraknya. Tempatnya sangat bagus jauh lebih baik dari youth hostel pada umumnya, mungkin cuma kalah sama yg di Berlin dan dibandingkan dengan harga sewa kamar yg cuma 13 euro.... sangat murah.

Strasbourg, saat itu sedang bergiat. Bagi kaum elit Eropa ini salah satu pusat diplomatik dunia, di sini berdiri gedung parlemen eropa yang terdiri dari perwakilan 40 negara demokratik di eropa, tak salah kalau banyak yang merefer ke Strasbourg sebagai Le Capitale de Europe-bener apa ngga,ngga begitu jelas,(yang pasti kota ini adalah salah satu ibukota peradaban Gothik dari sekitar tahun1200-an). Bangunan-bangunan elit berarsitektur modern ini umumnya berlokasi di daerah L'Orangerie yang mungkin ngga begitu menarik.

Yang paling menarik dari Strasbourg adalah bangunan berarsitektur klasiknya yang terfokus di daerah Palace St.Etienne. Di depannya kota yang berpenduduk kira2 400.000 jiwa ini di bagi oleh sungai Rhine. Ada dua tempat yg paling menarik dikunjungi yaitu daerah Cathedral di depan Palace St.Etienne dan daerah Petite France.

    La Cathedrale de Strasbourg,nama resminya. Dibangun pertama kali pada sekitar tahun 1015. Berarsitektur Gothik dengan polesan pinky-clay di permukaan, benar-benar menawarkan gaya arsitektur yg berbeda dibanding bangunan klasik lainnya. Dilengkapi detil-detil kecil terpahat di dinding seperti menceritakan jatuh bangun sejarahnya sampai komplit dibangun tahun 1870. Tekstur dan detil di menara depan tampak lebih indah
tatkala sinar tenggelamnya matahari menerpanya dari ufuk barat kota. Seperti Goethe pernah berkata tentang katedral ini : "The more I contemplate the facade of the Cathedral, the more I am convinced of my first impression that its loftiness is linked to its beauty."



    Petite France di dekat Terner Quarter, adalah tempat pertemuan anak-anak sungai Rhein. Sekilas lebih mirip kanal-kanal dengan restoran-restoran kecil di tepinya. Harga makanan di sini...wow..mahal banget, apalagi buat mendapat seat harus antri dulu.Orang-orang Prancis, baik penduduk asli maupun turis domestik

kebanyakan menghabiskan waktu nongkrong di kafe di Petit France...,sementara para pendatang kebanyakan berkumpul di depan Cathedral di mana summer festival digelar.

Waktu itu menjelang pukul 6 sore, tapi matahari masih tinggi dan attraksi utama di plaza St.Etienne baru dimulai. Umumnya kontemporer show, ciri khas Prancis dipadu dgn nuasa arab dan timur-tengah. Satu catatan,kalau dilihat dengan cermat, banyak sekali orang Afrika Utara dan keturunannya di kota ini. Jauh lebih banyak daripada di Paris.Menjelang pukul 10 malam, tiba-tiba perhatian tertuju ke koridor sempit di depan Cathedral, seperti dikomando ratusan orang bergegas berjalan menuju katedral. Awalnya saya kira ada perayaan khusus di dalam gereja, tapi sepertinya tidak mungkin orang-orang ini begitu antusiasnya berkumpul di sana.

Tepat pukul 10 malam, lonceng utama katedral berbunyi, pintu-pintu masih tertutup rapat. Semua perhatian tertuju pada dua menara utama di depan katedral yg di penuhi dgn ukiran pernak-pernik arsitektur jaman Gothik, dan pertunjukan pun dimulai. Pertunjukan berisikan permainan tata-cahaya lampu berbagai warna yg dipancarkan ke ukiran depan katedral diiringi musik klasik. Benar-benar mengesankan...' Banyak yg berdecak kagum :"What a view !...What a view !..."

Tak terasa show berlangsung selama kira-kira satu jam.
Waktunya pulang, tapi tak ada bus atau trem yang tersisa.

Dion Ringo at 8:33 PM| -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Otaru bersalju

    Berjalan ke utara Japang ke arah Hokkaido di saat musim dingin ada nuansa beda yang terasa. Penduduknya lebih ramah dan rileks. Di sini waktu terasa mati, dingin. Tak ada kesan ketergesaan. Mungkin ini salah satu sebab mengapa orang-orang asal Hokkaido, konon berumur lebih panjang daripada orang Jepang di daerah lain.

    Berjalan di Otaru, dua jam ke barat Sapporo..., seperti memasuki dimensi lain dari Jepang. Tata ruang dan bangunan kota pelabuhan ini seperti tata ruang rumah-rumah tua di Eropa utara pada umumnya. Rumah-rumah dilengkapi dengan tungku pemanas ruang, insulasi dan
langit-langit tinggi terbuat dari kayu tua.

Di sepanjang boulevard kota berjajar toko-toko dan museum. Beragam, dari makanan khas kota pelabuhan hingga mesin-mesin kecil pembuat pernak pernik jam. Tak kurang dari 10 museum di Otaru boulevard, tapi layaknya museum-museum di Jepang kadang tak jelas bedanya dgn toko.







Malam di Otaru, bagai kota mati, orang lebih suka tinggal di rumah sementara pendatang lebih memilih pulang ke Sapporo. Tapi malam adalah saat terindah di
Otaru, berjalan di antara kanal-kanal bersalju diterangi lampu jalan dan kerlip bintang.



Dion Ringo at 10:41 PM| -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Hiroshima tempo dulu

    Tak terasa sudah 5 jam berjalan dalam kereta super cepat. Hikari atau cahaya, begitu namanya dengan kecepatan rata-rata 200 km/jam benar-benar menjelaskan arti nama itu. Waktu menunjukan hampir tengah malam waktu kami tiba di station terakhir : Hiroshima, hujan gerimis dan kelembaban tinggi khas musim panas membuat enggan beranjak dari kereta dan stasiun. Hampir seluruh loker informasi dan turis tutup sesaat kami tiba di lantai dasar stasiun. Pertanda buruk, tiba saatnya berimprovisasi; mencari tempat menginap semalam. Melihat Martin, jelas hotel atau motel bukan pilihan,

saya sangat mengenalnya; tapi tanpa tenda tidur di luar tampaknya sulit apalagi hujan tambah deras.

Berputar-putar di pusat kota Hiroshima di malam itu, kesan berbeda mulai terasa. Atau mungkin ini hanya pengaruh bahan bacaaan dari info guide yang kubaca di kereta sepanjang perjalanan? Entahlah...satu kalimat terus terngiang di telinga: 700.000 orang tewas mengenaskan dalam satu hari. Entahlah...meski kota ini jauh dari kesan angker, tapi bayangan akan demikian banyaknya orang meregang nyawa dalam hitungan jam terus akan membayangi kota ini; meski bangunan tinggi, jembatan dan taman-taman indah terawat di mana-mana dan stadion yg megah...Ah, stadion ...mungkin di sana kami bisa berteduh malam ini.

Stadion itu bernama Hiroshima Carp(?) , yang penting setelah sempat berkucing-kucingan sebentar dengan satpam penjaga pintu akhirnya celah masuk itu terlihat dan sekarang tiba saatnya menggelar sleeping bag...dan tidur di stadion...hmm ini pengalaman pertama.

Kesan pertama keesokan harinya setelah melihat kota di pagi hari adalah keteraturan kota ini. Bangunan tampak tertata rapi. Kota-kota di Jepang umumnya begini, tapi kota ini jauh lebih rapi dibandingkan yang lain. Mungkin kenyataan untuk membangun kota dari nol, setelah di bumi-ratakan dengan bom atom menjadikan tata kota yang apik mudah terealisasi.


Di tengah kota mengalir sungai yang...saya tidak tahu namanya (maklum dalam kanji) dan dua jembatan utama. Tempat utama yang tampak jelas daya tarik kota adalah Atom dome. Tepat di depan Carp stadion tempatnya, dilengkapi dgn tata lampu yang indah, menjadi saksi bisu keajaiban bom atom itu. Tak ada yang istimewa sekilas dari kubah itu, terbuat dari batu bata dan coran beton, tampak tulangan-tulangan dan batu bata sisa penegboman berserakan disekeliling taman. Tanda dilarang masuk tampak disekeliling kubah, ini tidak menghalangi niat Martin untuk masuk dan memanjat pagar taman, sempat saya khawatir kalau-kalau polisi melihat. Tapi hari itu masih terlalu pagi, pukul 5 tepatnya, cahaya pagi bagus untuk pemotretan katanya.

    Anyway itu catatan perjalanan summer 2 tahun yang lalu, kenangan akan Hiroshima timbul kembali akhir-akhir ini, ketika bersih-bersih lab beberapa waktu yang lalu, setumpuk dokumen tua tersimpan rapi di balik tumpukan arsip lama yang berdebu di gudang penyimpanan lab-ku. Ketika terbuka, kotak itu berisi foto-foto korban bom Hiroshima. Catatan kaki yang tertera di beberapa foto beragam dari 3 jam hingga 3 hari setelah hari pengeboman.


Semua ingin melupakan tragedi itu, mungkin apa yang tampak sebagai bukti sejarah yang tak pernah kulihat dari mana pun, bagi mereka adalah kenangan pahit yang ingin disimpan...di dalam arsip tua di tumpukan dokumen berdebu.

Let all souls here rest in peace,
for we shall not repeat the evil.


    Towards evening, a light, southerly wind blowing across the city wafted to us an odour suggestive of burning sardines. I wondered what could cause such a smell until somebody, noticing it too, informed me that sanitation teams were cremating the remains of people who had been killed. Looking out, I could discern numerous fires scattered about the city. Previously I had assumed the fires were caused by burning rubble. Towards Nigitsu was an especially large fire where the dead were being burned by hundreds.
Suddenly to realise that these fires were funeral pyres made me shudder, and I became a little nauseated.

8 Aug 1945
From Hiroshima Diary by Michihiko Hachiya.
(Catatan Kaki di Museum Atom-Hiroshima)

Dion Ringo at 10:35 PM| -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



Site 

Meter