Berburu Nessie di Drumnadrochit
Hari masih pagi, ketika bis pertama berangkat meninggalkan Inverness stasiun menuju Drumnadrochit. Kabut pun masih menutupi sebagian pengunungan dataran tinggi yang dikenal dengan nama Highland. Konon di sela-sela bukit dan Loch (danau dalam bahasa celtic) inilah klan-klan pertama bangsa Scotland bermukim. Saling mengadu keperkasaan untuk mendominasi daerah pegunungan Scotland yang dingin dan berkabut.
Kurang lebih satu jam perjalanan dari Inverness, perlahan Loch Ness mulai terlihat. Dari atas bukit, diselimuti kabut nuansa magis danau yang konon dipercaya dihuni oleh monster naga ini mulai terasa. Di sisi jalan menuju terminal kecil di Drumnadrochit, toko-toko souvenir memulai kegiatannya. Hari baru bagi mereka untuk menuai pound dari cerita mistis monster bernama Nessie dari puluhan jika tidak ratusan turis dari berbagai penjuru.
Tetapi Drumnadrochit atau Drum na Drochaid dalam bahasa Scottish-Gaelic menawarkan banyak hal lain daripada sekedar cerita Nessie: pemandangan yang eksotik khas pegunungan Scotland, keramahan penduduknya, yang walau berbahasa Inggris dengan dialek gaelic-nya yang kental susah dimengerti, membuat pendatang merasa sangat nyaman di sini. Beberapa ratus meter dari pusat kota, yang sangat kecil, berjajar puluhan Bed&Breakfast yang berasitektur sangat khas. Mungkin kalau di Yogya, mirip losmen-losmen. Tarifnya pun relatif lebih murah dari pada di Inverness, mulai dari 12 pound hingga 20 pound.
Bagi penggemar Nessie pusat atraksi, terletak tepat di tikungan Loch Ness, namanya Loch Ness 2000 exhibition room. Bangunan baru lengkap dengan auditorium ini mendokumentasikan semua cerita tentang si monster dari jaman baheula, semasa St.Columba hingga riset paling mutakhir dengan teknik sonar. Di sepanjang jalan beberapa titik ditandai dengan 'Nessie sign; di tempat inilah dipercaya dulunya monster berupa naga ini pernah menampakkan diri. Di dalam ruang exhibition beragam foto dan cerita tentang Nessie diperagakan. Sebagian besar dari saksi photo dan cerita lama tentang monster, ternyata terbukti palsu. Beberapa yang terkenal adalah kesaksian Raynor di tahun 1964 yang setelah diteliti dengan teknik photographi ternyata tak lebih dari pantulan cahaya matahari pada riak gelombang danau. Apakah benar sang monster ada di Loch Ness? Percaya atau tidak mungkin tidak terlalu penting, yang lebih penting adalah penduduk asli diuntungkan oleh daya tarik cerita Nessie.
Mungkin yang lebih menarik dari fenomena Nessie adalah bagaimana cerita itu bermula dan bukan keberadaan monster itu sendiri. Cerita tentang Nessie ternyata sudah setua cerita peradaban di Drumnadrochit sendiri. Di abad ke enam, Drumnadrochit sangat tertutup dari peradaban, hanya dihuni oleh klan-klan Highland yang terkenal barbar dan tak berkebudayaan. Tak pula ada dokumentasi atau cerita tentang kota kecil ini yang sampai di daerah daratan eropa hingga Saint Columba, seorang missionaris dari eropa daratan datang dengan misi mendamaikan klan-klan Highland. Konon menurut cerita, dalam perjalanan menemui Raja Brude (Pictish) di daerah Urquhart dia bertemu dengan lelaki yang terluka oleh serangan monster dari danau. Saint Columba pun membuat tanda cross di dada lelaki tersebut dan membuat perjanjian dengan sang monster untuk mengusir monster pergi dari daratan. Dari sinilah cerita itu bemula dan diteruskan secara tradisi dari mulut ke mulut.
Cerita tentang Highland memang berpusat pada pertempuran. Semangat satria para Highlander masih tertanam sampai sekarang pada simbol-simbol tentata tartan Scotland, yang terkenal dengan atribut kilt-nya (semacam rok bermotif kotak-kotak). Setiap klan memiliki motif tersendiri. Di pusat informasi kebudayaan scotland, yang terletak di antara deretan toko suvenir, bisa dilihat tradisi penamaan klan-klan Highlander (seperti cerita di Highlander) dan juga simbol-simbol kilt yang mereka gunakan. Di sini tersedia pula jasa untuk menelusuri sejarah keturunan pengunjung. Cukup memberikan nama anda (pastinya musti mengandung Mac) dan penjaga akan membantu menelusuri sejarah keturunan anda dari jaman Highland hingga kini.
Mengagumkan betapa mereka tetap menjaga garis sejarah nama klan-nya. Sekedar informasi ternyata klan MacDonald adalah yang terkuat, motif kiltnya adalah seperti ini. Iseng-iseng saya juga mencari motif klannya MacLeod sang tokoh Highlander di film.
Kira-kira dua mil dari stasiun Drumnadrochit terdapat kastil Urquhart. Biasanya ditempuh dengan bis, tapi pagi itu udara yang sangat segar terasa lebih tepat dihabiskan di jalan setapak menuju kastil daripada di dalam bis. Urquhart terletak tepat di tengah garis pantai danau, tepatnya menjorok ke tengah danau sehingga dari atas bukit terlihat seperti ditelan danau. Kastil ini konon adalah yang terbesar di dataran Highland, tetapi pertempuran antar klan telah menghabiskan sebagian besar bangunan kastil. Yang tersisa adalah dua menara dan ruang utama, yang sekarang berfungsi sebagai pusat informasi.
Dari menara kastil pemandangan Loch Ness jelas terlihat, di beberapa sudut danau kapal-kapal kecil mulai berlayar. Sementara itu di luar pintu kastil, puluhan bis rombongan tur mulai berdatangan. Menjelang tengah hari kastil pun mulai dipenuhi orang berpiknik, sebagian menggelar tikar dan membuka lunch box sementara yang lain pergi ke kafetaria di lantai dua kastil, puas dengan harga makan siang yang tergolong mahal.
Siangnya di tengah kastil, pertunjukan open air sederhana dimulai, seorang tentara tartan mengenakan kilt (motifnya menunjukkan bahwa dia adalah keturunan MacLeod) memainkan beberapa lagu tradisional Scotland dengan back-pipe. Tak ada satupun lagunya yang saya kenal mungkin hanya Auld Lane Shyne yang menutup konser kecilnya. Di tepi danau pengunjung ramai mengambil gambar, matahari mulai meninggi dan kabut pun hilang, waktu yang sangat tepat untuk mengabadikan keindahan danau. Beberapa dari mereka melengkapi kamera dengan lensa tele.
Mungkin sambil berharap Nessie akan muncul siang itu.
Tapi tak ada Nessie hari itu. Siang hari pun dihabiskan dengan berjalan di tepi danau dan menengok artifak-artifak sederhana peninggalan jaman highlander. Hari pun mulai sore, dan bis-bis turis beranjak meninggalkan kastil. Kabut pun kembali turun. Bersama beberapa back-packers, kami berjajar di tepi jalan sambil menjulurkan jempol, mengharap ada mobil yang berhenti dan memberi tumpangan. Tapi ternyata sangat sulit mendapat tumpangan di sini. Semua kendaraan menuju Inverness berlalu tanpa menengok sedikitpun. Menjelang pukul lima bis terakhir menuju Inverness pun tiba. Penuh dengan penumpang. Dengan polosnya sang kondektur tidak memperbolehkan penumpang untuk masuk dan berdiri di dalam bis. "How come you sold tickets without seat?" komplain salah satu calon penumpang yang ternyata sudah bertiket tapi tidak juga diperbolehkan masuk. Wah tampaknya tidak ada harapan dapat bis pulang ke kota. Akhirnya diputuskan untuk mendatangi Bed&Breakfast di sekitar Urquhart castle, setelah tawar-tawar sedikit, dengan 12 pound kamar terakhir yang tersedia pun didapat.
Dari tingkat dua rumah sederhana yang diubah menjadi motel itu, pemandangan malam Loch ness terlihat menawan. Pantulan sinar bulan pada riak danau menimbulkan gambar-gambar menarik yang dapat ditafsirkan bermacam-macam. Mungkin ini lah awal dari cerita penampakan monster itu. Di satu sisi dari kejauhan sinar lampu-lampu kastil Urquhart terlihat, sementara di sisi yang lain tampak jalan menuju Inverness lengang, di tepi jalan beberapa backpackers belum putus harapan, menjulurkan jempol sambil menahan dingin malam mengharap tumpangan menuju kota.
Weimar: City of Culture

Kalaulah ada kota kecil tempat bertemunya budaya Eropa dan orang-orang penting di masanya, mungkin Weimar adalah salah satunya. Kota kecil bagian Thueringen yang terletak di jantung timur Jerman ini adalah pusat kebangkitan pemikir-pemikir abad pertengahan. Awalnya Goethe--salah satu pujangga dan pemikir paling cemerlang dalam sejarah Jerman-- meminta tempat di mana dia dapat merenung dan berkarya.
Pihak kerajaan, yang merasa berhutang pada Goethe mengabulkan permintaannya dan menganugerahkan rumah serta tanah pada Goethe untuk tinggal dan berkarya. Di tempat ini semuanya bermula.

Kedatangan Goethe mengundang banyak keingintahuan para pemikir dan budayawan lainnya. Di saat yang hampir bersamaan pujangga dan pelukis Schiller turut bermukim dan mendirikan rumah tepat di depan rumah Goethe. Kalau dirunut kebelakang budayawan dan philosopher Jerman, mungkin hampir semuanya pernah singgah di Weimar.
Herder, Liszt,Nietsche,Bauhaus,Bach dan Martin Luther pada masanya pernah tinggal atau singgah di kota ini. Di jalan-jalan sempit setapak dekat taman kota konon pada waktunya Goethe,Schiller dan Herder biasa menulis dan berdebat. Berjalan-jalan di kota ini seperti menelusuri ratusan tahun ke belakang di mana semua rumah bercerita tentang sebuah nama.
'Here where Nietsche, used to stay!'
'Right here we have the former house of Bach...'
'And this was the place where Schiller's wife used to light a candle as a sign to Goethe that her husband isn't at home...' (kabarnya Goethe punya affair dgn istri Schiller).

Kotanya sendiri sangat kecil, dihuni sekitar 90.000 orang yang kebanyakan berprofesi sebagai 'penghuni kafe'. Jadi jangan heran kalau selama berkeliling di pusat kota dan bertemu dengan orang yang sama 3 kali sehari di 3 kafe yang berbeda. Pusat kotanya terbagi dua : daerah Marketplatz yang kalau pagi hari berfungsi sebagai pasar kagetan dan Goetheplatz yang dikelilingi museum.
Berbicara soal museum, seperti tidak ada habisnya di sini. Hampir setiap rumah yang dulunya dihuni oleh tokoh terkenal, sekarang dijadikan museum untuk mengenang dan mengabadikan memorabilia. Sebagian besar dari museum ini sekarang menjadi
world cultural heritage. Kabarnya sewaktu berkuasa Hitler pernah juga 'memaksa' tinggal di daerah
Marketplatz.Mungkin dia juga berharap disejajarkan dengan tokoh-tokoh budayawan terkenal eropa.
Di samping pusat kota yang lumayan ramai dengan turis, daerah sekeliling Weimar adalah tipikal padang rumput dengan area yang luas tak terjamah. Di ujung utara kota terletak Buchenwald salah satu lokasi kamp konsentrasi di jaman Nazi. Bangunannya sendiri jauh dari kesan angker, tetapi kalau melihat cerobong asap crematorium-nya (yang terletak tepat di puncak bukit dan terlihat jauh dari Weimar), kadang terbayang derita 50.000 orang yahudi yang tewas terbunuh di sini.
Di bagian selatan kota mengalir sungai Ilm yang membelah taman kota, di sekitarnya terdapat taman kota Park the Ilm berbatasan dengan Garden House tempat Goethe biasa menghabiskan waktu berpikir dan merenung. Di masa pendudukan Soviet sayangnya taman kota ini dijadikan makam tentara Soviet yang gugur saat perang dunia kedua.
Masa-masa perang dingin, adalah masa kegelapan kota ini. Di masa itu kota ini termasuk bagian dari Republik Demokratik Jerman yang oppresif. Gedung-gedung pemerintah sisa periode ini tampak kusam lusuh tak terurus.
Reunifikasi Jerman dipercaya membawa kembali kota yang di masa awal republik sempat dijadikan ibukota ini, ke posisinya semula sebagai
Center of excellence of Germany. Tapi Weimar menawarkan banyak hal lebih dari sekedar
excellence yang mungkin tak bisa ditemukan
in any city map. Seperti Goethe sendiri pernah berkata :
'All the knowledge I possess everyone else can acquire, but my heart is all my own.'
Strasbourg, Ibukota Eropa
Hari itu menjelang sore ketika kami mengakhiri perjalanan 3 jam dari Karlsruhe dengan kereta Trans-Euro. Strasbourg, kota terbesar yang berada di daerah perbatasan Jerman-Perancis sepintas tidak menampilkan kesan sebagai pusat kebudayaan Perancis di selatan daerah Alsace. Malah kesan pertama setibanya di Gare du Centrale maaf agak kumuh. Bergegas kami mencari pusat informasi kota, yg ternyata juga sudah tutup, dengan bahasa Perancis yg terbatas, saya coba berkomunikasi dgn penjaga stasiun, menanyakan hotel atau motel murah di kota ini. Setelah melihat sekilas penampilan kami (backpackers) dia menyarankan auberg de jeuness atau youth Hostel. Saya sempat kaget juga ternya dia ngerti 'prancis' saya yang campur aduk...he..he..
Dari peta kota, yg tersedia dgn harga sekitar 6 euro, kami menelusuri kota dgn bus, mencari yg namanya auberg de jeuness, tapi setelah berkeliling sekitar satu jam ngga ketemu; ternyata tempat itu sudah pindah, ya, ke luar kota kira2 satu jam jaraknya. Tempatnya sangat bagus jauh lebih baik dari youth hostel pada umumnya, mungkin cuma kalah sama yg di Berlin dan dibandingkan dengan harga sewa kamar yg cuma 13 euro.... sangat murah.
Strasbourg, saat itu sedang bergiat. Bagi kaum elit Eropa ini salah satu pusat diplomatik dunia, di sini berdiri gedung parlemen eropa yang terdiri dari perwakilan 40 negara demokratik di eropa, tak salah kalau banyak yang merefer ke Strasbourg sebagai Le Capitale de Europe-bener apa ngga,ngga begitu jelas,(yang pasti kota ini adalah salah satu ibukota peradaban Gothik dari sekitar tahun1200-an). Bangunan-bangunan elit berarsitektur modern ini umumnya berlokasi di daerah L'Orangerie yang mungkin ngga begitu menarik.
Yang paling menarik dari Strasbourg adalah bangunan berarsitektur klasiknya yang terfokus di daerah Palace St.Etienne. Di depannya kota yang berpenduduk kira2 400.000 jiwa ini di bagi oleh sungai Rhine. Ada dua tempat yg paling menarik dikunjungi yaitu daerah Cathedral di depan Palace St.Etienne dan daerah Petite France.

La Cathedrale de Strasbourg,nama resminya. Dibangun pertama kali pada sekitar tahun 1015. Berarsitektur Gothik dengan polesan pinky-clay di permukaan, benar-benar menawarkan gaya arsitektur yg berbeda dibanding bangunan klasik lainnya. Dilengkapi detil-detil kecil terpahat di dinding seperti menceritakan jatuh bangun sejarahnya sampai komplit dibangun tahun 1870. Tekstur dan detil di menara depan tampak lebih indah
tatkala sinar tenggelamnya matahari menerpanya dari ufuk barat kota. Seperti
Goethe pernah berkata tentang katedral ini :
"The more I contemplate the facade of the Cathedral, the more I am convinced of my first impression that its loftiness is linked to its beauty."

Petite France di dekat Terner Quarter, adalah tempat pertemuan anak-anak sungai Rhein. Sekilas lebih mirip kanal-kanal dengan restoran-restoran kecil di tepinya. Harga makanan di sini...wow..mahal banget, apalagi buat mendapat seat harus antri dulu.Orang-orang Prancis, baik penduduk asli maupun turis domestik
kebanyakan menghabiskan waktu nongkrong di kafe di
Petit France...,sementara para pendatang kebanyakan berkumpul di depan Cathedral di mana summer festival digelar.
Waktu itu menjelang pukul 6 sore, tapi matahari masih tinggi dan attraksi utama di plaza
St.Etienne baru dimulai. Umumnya kontemporer show, ciri khas Prancis dipadu dgn nuasa arab dan timur-tengah. Satu catatan,kalau dilihat dengan cermat, banyak sekali orang Afrika Utara dan keturunannya di kota ini. Jauh lebih banyak daripada di Paris.Menjelang pukul 10 malam, tiba-tiba perhatian tertuju ke koridor sempit di depan Cathedral, seperti dikomando ratusan orang bergegas berjalan menuju katedral. Awalnya saya kira ada perayaan khusus di dalam gereja, tapi sepertinya tidak mungkin orang-orang ini begitu antusiasnya berkumpul di sana.
Tepat pukul 10 malam, lonceng utama katedral berbunyi, pintu-pintu masih tertutup rapat. Semua perhatian tertuju pada dua menara utama di depan katedral yg di penuhi dgn ukiran pernak-pernik arsitektur jaman Gothik, dan pertunjukan pun dimulai. Pertunjukan berisikan permainan tata-cahaya lampu berbagai warna yg dipancarkan ke ukiran depan katedral diiringi musik klasik. Benar-benar mengesankan...' Banyak yg berdecak kagum :"What a view !...What a view !..."
Tak terasa show berlangsung selama kira-kira satu jam.
Waktunya pulang, tapi tak ada bus atau trem yang tersisa.
Otaru bersalju

Berjalan ke utara Japang ke arah Hokkaido di saat musim dingin ada nuansa beda yang terasa. Penduduknya lebih ramah dan rileks. Di sini waktu terasa mati, dingin. Tak ada kesan ketergesaan. Mungkin ini salah satu sebab mengapa orang-orang asal Hokkaido, konon berumur lebih panjang daripada orang Jepang di daerah lain.
Berjalan di Otaru, dua jam ke barat Sapporo..., seperti memasuki dimensi lain dari Jepang. Tata ruang dan bangunan kota pelabuhan ini seperti tata ruang rumah-rumah tua di Eropa utara pada umumnya. Rumah-rumah dilengkapi dengan tungku pemanas ruang, insulasi dan
langit-langit tinggi terbuat dari kayu tua.
Di sepanjang boulevard kota berjajar toko-toko dan museum. Beragam, dari makanan khas kota pelabuhan hingga mesin-mesin kecil pembuat pernak pernik jam. Tak kurang dari 10 museum di Otaru boulevard, tapi layaknya museum-museum di Jepang kadang tak jelas bedanya dgn toko.
Malam di Otaru, bagai kota mati, orang lebih suka tinggal di rumah sementara pendatang lebih memilih pulang ke Sapporo. Tapi malam adalah saat terindah di
Otaru, berjalan di antara kanal-kanal bersalju diterangi lampu jalan dan kerlip bintang.
Hiroshima tempo dulu

Tak terasa sudah 5 jam berjalan dalam kereta super cepat. Hikari atau cahaya, begitu namanya dengan kecepatan rata-rata 200 km/jam benar-benar menjelaskan arti nama itu. Waktu menunjukan hampir tengah malam waktu kami tiba di station terakhir : Hiroshima, hujan gerimis dan kelembaban tinggi khas musim panas membuat enggan beranjak dari kereta dan stasiun. Hampir seluruh loker informasi dan turis tutup sesaat kami tiba di lantai dasar stasiun. Pertanda buruk, tiba saatnya berimprovisasi; mencari tempat menginap semalam. Melihat Martin, jelas hotel atau motel bukan pilihan,
saya sangat mengenalnya; tapi tanpa tenda tidur di luar tampaknya sulit apalagi hujan tambah deras.
Berputar-putar di pusat kota Hiroshima di malam itu, kesan berbeda mulai terasa. Atau mungkin ini hanya pengaruh bahan bacaaan dari info guide yang kubaca di kereta sepanjang perjalanan? Entahlah...satu kalimat terus terngiang di telinga: 700.000 orang tewas mengenaskan dalam satu hari. Entahlah...meski kota ini jauh dari kesan angker, tapi bayangan akan demikian banyaknya orang meregang nyawa dalam hitungan jam terus akan membayangi kota ini; meski bangunan tinggi, jembatan dan taman-taman indah terawat di mana-mana dan stadion yg megah...Ah, stadion ...mungkin di sana kami bisa berteduh malam ini.
Stadion itu bernama Hiroshima Carp(?) , yang penting setelah sempat berkucing-kucingan sebentar dengan satpam penjaga pintu akhirnya celah masuk itu terlihat dan sekarang tiba saatnya menggelar sleeping bag...dan tidur di stadion...hmm ini pengalaman pertama.
Kesan pertama keesokan harinya setelah melihat kota di pagi hari adalah keteraturan kota ini. Bangunan tampak tertata rapi. Kota-kota di Jepang umumnya begini, tapi kota ini jauh lebih rapi dibandingkan yang lain. Mungkin kenyataan untuk membangun kota dari nol, setelah di bumi-ratakan dengan bom atom menjadikan tata kota yang apik mudah terealisasi.
Di tengah kota mengalir sungai yang...saya tidak tahu namanya (maklum dalam kanji) dan dua jembatan utama. Tempat utama yang tampak jelas daya tarik kota adalah Atom dome. Tepat di depan Carp stadion tempatnya, dilengkapi dgn tata lampu yang indah, menjadi saksi bisu keajaiban bom atom itu. Tak ada yang istimewa sekilas dari kubah itu, terbuat dari batu bata dan coran beton, tampak tulangan-tulangan dan batu bata sisa penegboman berserakan disekeliling taman. Tanda dilarang masuk tampak disekeliling kubah, ini tidak menghalangi niat Martin untuk masuk dan memanjat pagar taman, sempat saya khawatir kalau-kalau polisi melihat. Tapi hari itu masih terlalu pagi, pukul 5 tepatnya, cahaya pagi bagus untuk pemotretan katanya.

Anyway itu catatan perjalanan summer 2 tahun yang lalu, kenangan akan Hiroshima timbul kembali akhir-akhir ini, ketika bersih-bersih lab beberapa waktu yang lalu, setumpuk dokumen tua tersimpan rapi di balik tumpukan arsip lama yang berdebu di gudang penyimpanan lab-ku. Ketika terbuka, kotak itu berisi foto-foto korban bom Hiroshima. Catatan kaki yang tertera di beberapa foto beragam dari 3 jam hingga 3 hari setelah hari pengeboman.
Semua ingin melupakan tragedi itu, mungkin apa yang tampak sebagai bukti sejarah yang tak pernah kulihat dari mana pun, bagi mereka adalah kenangan pahit yang ingin disimpan...di dalam arsip tua di tumpukan dokumen berdebu.
Let all souls here rest in peace,
for we shall not repeat the evil.

Towards evening, a light, southerly wind blowing across the city wafted to us an odour suggestive of burning sardines. I wondered what could cause such a smell until somebody, noticing it too, informed me that sanitation teams were cremating the remains of people who had been killed. Looking out, I could discern numerous fires scattered about the city. Previously I had assumed the fires were caused by burning rubble. Towards Nigitsu was an especially large fire where the dead were being burned by hundreds.
Suddenly to realise that these fires were funeral pyres made me shudder, and I became a little nauseated.
8 Aug 1945
From Hiroshima Diary by Michihiko Hachiya.
(Catatan Kaki di Museum Atom-Hiroshima)